NUZUL AL-QUR’AN DAN JAM’U AL-QUR’AN PADA MASA
NABI
A. Pembahasan
Pengertian nuzul Al-Qur’an
Nuzul secara harfiah artinya turun, sebagaimana
disebutkan dalam Mufradat, Misbah wal Aqrab. Raghib dalam memaknai nuzul
berkata, “al-Nuzul fii al-ashl: huwa inhitat min ‘ulu’ (Nuzul aslinya bermakna
turunnya sesuatu dari atas).
öNçFRr&uäçnqßJçFø9tRr&z`ÏBÈb÷ßJø9$#÷Pr&ß`øtwUtbqä9Í\ßJø9$#ÇÏÒÈ
"Kamukah
yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? " (Q.S. al waqi’ah : 69)
$uZø9tRr&uryÏptø:$#ÏmÏùÓ¨ù't/ÓÏx©ßìÏÿ»oYtBurĨ$¨Z=Ï9
"…Dan Kami turunkan besi
yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia
...." (Q. S. Al hadid : 25)
Kata "anzalnaa"
yang berarti "kami turunkan" khusus digunakan untuk besi dalam ayat
ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan
untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna
harfiah kata ini, yakni " inhitatmin ‘ulu’ ", kita akan
menyadari bahwa ayat ini memiliki nilai ilmiah yang sangat penting. Ini
dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang
ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.[1]
1. Prosen
penulisan Al-qur’an Pada Masa Nabi
Kerinduan Nabi terhadap
kedatangan wahyu tidak saja dieksperisakan dalam bentuk hapalan, tetapi juga
dalam bentuk tulisan.Nabi memiliki sekretaris pribadi yang khusus bertugas
mencatatwahyu, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abban bin sa’id. Khalid bin
Al-Walid, Mu’awiyah bin Abi Sufyan.Proses penulisan Al-qur’an pada masa nabi
sungguh sangat sederhana mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa
lontaran kayu, pelepah korma,tulang belulang, dan batu.
1.
Proses nuzul Al-Qur’an dan hikmahnya
Dari pengertian diatas
dapat kita simpulkan bahwa nuzul Al-Qur’an berarti turunnya Al-Qur’an dari
Allah SWT kepada nabi Muhammad saw. Manna’ Khalil al-Qattan dalam mabaahits fii Ulum Al- Quran membagi menjadi 2, yaitu :
a.
Turunnya Al-Qur’an sekaligus
Firman Allah dalam
surat al baqarah : 185
ãökytb$ÒtBuüÏ%©!$#tAÌRé&ÏmÏùãb#uäöà)ø9$#WèdĨ$¨Y=Ïj9;M»oYÉit/urz`ÏiB3yßgø9$#Èb$s%öàÿø9$#ur4
“ bulan
Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda..”
Dan surat
al qadr : 1
!$¯RÎ)çm»oYø9tRr&ÎûÏ's#øs9Íôs)ø9$#ÇÊÈ
“Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan”
Dan surat ad-Dukhaan :
3
!$¯RÎ)çm»oYø9tRr&Îû7's#øs9>px.t»t6B4$¯RÎ)$¨Zä.z`ÍÉZãBÇÌÈ
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang
diberkahi..”
Ketiga ayat diatas
menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr atau malam yang
diberkahi pada bulan ramadhan. Namun sebagaimana kita ketahui, Al-Qur’an
diturunkan kepada nabi Muhammad saw secara bertahap dalam kurun waktu lebih
kurang 23 tahun.
Dalam hal ini Manna’ al
Qattan membagi pendapat ulama menjadi beberapa mazhab. Pertama, kata nuzul
disini berarti turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan ke bait al izzah di langit dunia, kemudian baru diturunkan kepada nabi
Muhammad saw secara bertahap
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ
وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا
“Dan Al
Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
Kedua,
turunnya Al-Qur’an pada malam tersebut merupakan awal dari nuzul Al-Qur’an,
selanjutnya diteruskan selama 23 tahun.
وَقَالَالَّذِينَكَفَرُوالَوْلانُزِّلَعَلَيْهِالْقُرْآنُجُمْلَةًوَاحِدَةًكَذَلِكَلِنُثَبِّتَبِهِفُؤَادَكَوَرَتَّلْنَاهُتَرْتِيلا
وَلايَأْتُونَكَبِمَثَلٍإِلاجِئْنَاكَبِالْحَقِّوَأَحْسَنَتَفْسِيرًا
“Berkatalah
orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya
sekali turun saja? demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami
membacakannya secara tartil (teratur dan benar).
Tidaklah
orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan
Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”
Ketiga, al quran diturunkan selama 23 tahun pada
malam lailatul qadr di tiap tahunnya. Namun pendapat ketiga ini hanya ijtihad
dari sebagian ulama, dan tidak berdasarkan dalil yang jelas.[2]
Jalaluddin Al-Suyuti
Al-Syafi’I, dalam Al-Itqan
menyebutkan, terdapat ikhtilaf dalam cara turunnya Al-Qur’an dari lauhul
mahfudz, dan pendapat yang paling shahih adalah: Al-Qur’an diturunkan ke
“langit dunia” pada malam lailatul qadr secara keseluruhan, kemudian diturunkan
secara bertahap setelahnya selama lebih kurang 23 tahun.[3]
b.
Turunnya Al-Qur’an secara bertahap.
Proses yang kedua ini Al-Qur’an
diturunkan secara bertahap dari langit dunia ke dalam hati nabi Muhammad saw
secara berangsur-angsur selama 23 tahun.[4]
Firman Allah dalam surat Al-Syu’ara :
192-195
وَإِنَّهُلَتَنْزِيلُرَبِّالْعَالَمِينَ
نَزَلَبِهِالرُّوحُالأمِينُ
عَلَىقَلْبِكَلِتَكُونَمِنَالْمُنْذِرِينَ
بِلِسَانٍعَرَبِيٍّمُبِينٍ
“Dan
sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam(192)dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril)(193) ke dalam hatimu
(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi
peringatan(194) dengan bahasa Arab yang jelas(195) “
Dan dalam
surat Al-Baqarah : 23
وَإِنْكُنْتُمْفِيرَيْبٍمِمَّانَزَّلْنَاعَلَىعَبْدِنَافَأْتُوابِسُورَةٍمِنْمِثْلِهِ
“Dan jika
kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba
Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu..”
Dan surat
Al-Baqarah: 97
قُلْمَنْكَانَعَدُوًّالِجِبْرِيلَفَإِنَّهُنَزَّلَهُعَلَىقَلْبِكَبِإِذْنِاللَّهِمُصَدِّقًالِمَابَيْنَيَدَيْهِوَهُدًىوَبُشْرَىلِلْمُؤْمِنِينَ
“Katakanlah:
Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al
Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.”
Dari
ayat-ayat diatas, Manna al qattan menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kalam
Allah yang lafadznya berbahasa Arab, dan Jibril yang telah menyampaikannya ke
dalam hati Rasulullah, dan turunnya ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini
diturunkan secara berangsur-angsur, bukan seperti turunnya pertama kali ke
langit dunia.[5]
Jadi, Al-Qur’an
diturunkan “bertahap” setelah turunnya pertama kali ke langit dunia secara
keseluruhan pada malam lailatul qadr di bulan ramadhan. Sebagian ulama
berpendapat, itu terjadi selama 23 tahun. 13 tahun di Makkah, dan 10 tahun di
Madinah. Sebagian lain berpendapat turunnya secara bertahap itu selama 25
tahun, dan sebagian lain 20 tahun. Namun
pendapat yang kuat menurut Manna al Qattan adalah 23 tahun, 13 tahun di Makkah,
dan 10 tahun di Madinah.
Hikmah diturunkan Al-Qur’an
secara bertahap :
1. Agar lebih mudah dimengerti
dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan
sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini
disebutkan oleh Bukhari dari riwayat Aisyah ra.
2. Diantara ayat-ayat
tersebut ada yang nasikh dan mansukh
3. Turunnya suatu ayat
sesuai dengan peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih
berpengaruh di hati.
4. Memudahkan penghafalan.
Orang-orang musyrik yang telah menyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan
sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan : 32
5. Diantara ayat-ayat ada
yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau
perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh ibnu Abbas ra. Hal ini tidak dapat
terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.
Faktor yang mendorong penulisan Al-qur’an
pada masa nabi :
1.
Membukukan hapalan yang
telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.
2.
Mempersentasekan wahyu
dengan cara yang paling sempurna, Hal ini karena hapalan para sahabat saja
tidak cukup, terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka ada yang sudah
wafat. Adapun tulisan akan tetap terpelihara walaupun pada masa Nabi penulisan
Al-qur’an tidaklah pada satu tempat.
Uraian
diatas memperlihatkan bahwa pada masa Nabi, Al-qur’an tidak ditulis pada satu
tempat, melainkan pada tempat yang terpisah-pisah, Hal ini berdasaran 2 alasan
yaitu :
1.
Proses penurunan Al-qur’an
masih berlanjut sehingga ada kemungkinan ayat yang turun belakangan “menghapus”
redaksi dan ketentuan hokum ayat yang sudah turun terdahulu.
2.
Penyusunan ayat dan surat
Al-qir’an tidak bertolak dari kronoli turunnya, tetapi bertolak dari keserasian
antara satu ayat dengan ayat lainnya, atau antara satu surat dan surat lainnya.
Terkadang ayat atau surat yang turun belakangan ditulis lebih dahulu ketimbang
ayat atau surat yang turun terlebih dahulu.
Ulama berbeda pendapat
mengenai ayat yang pertama diturunkan. Pendapat
pertama yang shahih menurut Assuyuti adalah ayat pertama surat al ‘alaq,
Berdasarkana
hadits yang diriwayatkan oleh syaikhani, dan yang lain.Aisyah r.a. berkata, "yang pertama
(dari wahyu) kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur.
Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti
merekahnya cahaya subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi
di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum
rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau
pulang kepada Khadijah. Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga
datanglah kepadanya (dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya)
kebenaran. Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat seraya berkata,
'Bacalah!' Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan
mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia
berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:'
Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan
saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa
membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia
melepaskan saya. Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq.
Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam.
'Allamal insaana maa lam ya'lam. 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah
saw. pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam
satu riwayat: dengan tubuh gemetar).[7]
Pendapat kedua, yang pertama kali turun adalah firman Allah :
يَاأَيُّهَاالْمُدَّثِّرُ
Berdasarkan
hadits yang diriwayatkan Syaikhani : Dari Abu salamah bin Abdurrahman; dia
berkata: “Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Yang manakah diantara
Quran itu yang turun pertama kali? Dia menjawab: Ya Ayyuhal Mudatsir. Aku bertanya lagi: ataukah Iqra bismi rabbik? Dia menjawab: aku
katakana kepadamu apa yang dikatakan Rasulullah saw kepada kami: “sesungguhnnya
aku berddiam diri di gua Hira, maka ketika habis maasa diamku, aku tuun lalu
aku telusuri lembah. Aku lihat ke muka, ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Lalu
aku lihat ke langit, tiba-tiba aku melihat jibril yang amat menakutkan. Maka
aku pulang ke khadijah, khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimutiku.
Merekapun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan : ‘Wahai orang yang berselimut; bangkitlah, lalu berilah peringatan.’
”[8]
Mengenai
pendapat kedua ini, Jabir menjelaskan bahwa yang pertama kali turun secara
penuh adalah surat al-Mudatsir, sebelum surat Al-‘Alaq tuntas diturunkan. Dan
surat Al-mudatsir turun setelah sekian lama wahyu terhenti turunnya. Jadi bisa
kita ambil kesimpulan bahwa ayat yang pertama turun adalah Iqra dan surat yang pertama turun untuk risalah adalah Al-mudatsir.
Ibnu Hajar
al atsqalani dalam Fathul Baari
mengatakan mengenai masa tidak turunnya wahyu. Dalam kitab sejarah karangan
Ahmad bin Hanbal terdapat riwayat dari Sya’bi yang mengatakan, bahwa masa tidak
turunnya wahyu adalah 3 tahun, pendapat ini dikuatkan oleh ibnu Ishaq.[9]
Pendapat lain, surat
yang pertama kali turun adalah surat Al- Fatiha. Ada juga yang berpendapat yang
pertama kali turun adalah Bismillahirrahmaanirrahiim.
Akan tetapi dalil yang mendukung kedua pendapat ini hadits-hadits Mursal.
Sedangkan
surat yang terakhir turun, juga ada beberapa pendapat, antara lain :
1. Ayat yang
terakhir turun adalah tentang riba. Sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari dari
ibn Abbas, ia berkata : “Ayat yang terkhir turun adalah tentang riba” maksudnya
adalah surat An- nisa 176
2. Dikatakan
pula, yang terakhir turun adalah surat at-taubah
2. Metode jam’u Al-Qur’an
pada masa Nabi
Jam’ul-Qur`ân artinya pengumpulan
al-Qur`an. Maknanya mencakup dua pengertian, seiring dengan prosesnya itu
sendiri, yakni hifzhuhu; penghafalan dan kitâbatuhu kullihi; penulisannya
secara keseluruhan.[10] As-Shabuniy membahasakannya al-jam’ fis-shudûr; pengumpulan dalam dada dan al-jam’ fis-suthûr; pengumpulan dalam tulisan[11]
Di sini kita perlu
memperhatikan penggunaan kata ‘pengumpulan' bukan ‘penulisan'. Dalam
komentarnya, al-Khattabi menyebut, "Catatan ini memberi isyarat akan
kelangkaan buku tertentu yang memiliki ciri khas tersendiri. Sebenarnya, Kitab
Al-Qur'an telah ditulis seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad. Hanya saja belum
disatukan dan surah-surah yang ada juga masih belum tersusun."[12] Penyusunan Al-Qur'an dalam satu jilid utama (master
volume) boleh jadi merupakan satu tantangan karena nasikh mansukh yang
muncul kemudian dan perubahan ketentuan hukum maupun kata-kata dalam ayat
tertentu memerlukan penyertaan ayat lain secara tepat. Hilangnya satu format
halaman akan sangat merendahkan penyertaan ayat-ayat yang baru serta surahnya
karena wahyu tidak berhenti untuk beberapa saat sebelum Nabi Muhammad
wafat. Dengan wafatnya Nabi Muhammad berarti wahyu berakhir untuk selamanya.
Tidak akan terdapat ayat lain, perubahan hukum, serta penyusunan ulang. Ini
berarti kondisi itu telah mapan dalam waktu yang tepat guna memulai penyatuan
Al-Qur'an ke dalam satu jilid. Tidak ada keraguan yang dirasakan dalam
pengambilan keputusan dan kebijaksanaan dan bahkan telah memaksa masyarakat
mempercepat pelaksanaan tugas ini. Allah swt. memberi bimbingan para sahabat
dalam memberi pelayanan terhadap AlQur'an sebagaimana mestinya memenuhi janji
pemeliharaan ' selamanya terhadap Kitab-Nya,[13]
إِنَّانَحْنُنَزَّلْنَاالذِّكْرَوَإِنَّالَهُلَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya”
Ibn Hajar al-’Asqalaniy
sedikit berbeda memaknai Jam’ul-Qur`ân. Menurutnya, walaupun al-jam’ bisa
bermakna al-hifzh, tapi dalam kaitannya dengan proses pengumpulan al-Qur`an,
maknanya menjadi khusus, yakni mengumpulkan al-Qur`an ke dalam shuhuf di zaman
Abu Bakar dan mengumpulkannya kembali ke dalam mushhaf di zaman ‘Utsman. Hal
ini didasarkan pada tarjamah al-Bukhariy dalam kitabnya, al-Jâmi’ as-Shahîh,
ditambah sebuah pernyataan Zaid ibn Tsabit: "Saat Nabi Muhammad wafat,
Al-Qur'an masih belum dirangkum dalam satuan bentuk buku."[14]
Sebagaimana di atas,
proses Jam’ul-Qur`ân di masa Nabi Saw mencakup dua kegiatan, yaitu penghafalan
dan penulisan. Kegiatan penghafalan
itu terdapat dalam hadits berikut ini:
Dari Ibn ‘Abbas perihal
firman Allah Ta’ala “Janganlah kau menggerakkan lisanmu karena tergesa-gesa”:
Rasulullah Saw merasa berat ketika turun wahyu sampai beliau menggerak-gerakkan
kedua bibirnya. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kau gerak-gerakkan
lisanmu karena tergesa-gesa. Sesungguhnya tangung jawab kami mengumpulkannya
dan membacakannya.” Ibn ‘Abbas berkata: Yaitu mengumpulkannya dalam dadamu dan
kau mampu membacanya. “Maka apabila Kami membacakannya, maka ikutilah
bacaannya.” Yaitu perhatikanlah dan diamlah. “Kemudian sesungguhnya tanggung
jawab kami menjelaskannya.” Yaitu, sesungguhnya tanggung jawab kami kau dapat
membacakannya. Maka Rasul Saw setelah itu apabila Jibril datang kepadanya,
beliau menyimaknya. Dan apabila Jibril telah pergi, Nabi Saw membacakannya
sebagaimana Jibril membacakannya[15]
Jelas sekali dalam
riwayat tersebut jam’ bermakna hafalan. Dan Nabi Saw melakukannya dengan
jaminan penuh dari Allah Swt akan keakuratannya. Selain itu, Nabi Saw juga
menggiatkan para shahabat untuk bisa membaca al-Qur`an di luar kepala.
Penulisan. Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin
memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu. Zaid bin Thabit
menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering
kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.[16]
Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa
tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; 'Amr bin Um-Maktum al-A'ma
duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, "Bagaimana tentang saya? Karena
saya sebagai orang yang buta." Dan kemudian turun ayat, "ghair uli
al-darar" [17](bagi
orangorang yang bukan catat). Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah
mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi
Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.[18]
Di samping itu sebagian sahabat juga menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas
kemauan mereka sendiri, tanpa diperintahkan oleh nabi. Mereka menuliskannya
pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana,
potongan tulang belulang binatang. Zait bin Tsabit berkata: “ Kami menyusun
Quran dihadapan Rasululah pada kulit binatang”[19]
3.
Faktor-faktor pendorong jam’u Al-Qur’an pada masa Nabi
Pada masa nabi Muhammad
saw jam’u Al-Qur’an belum sepenuhnya didasari oleh kesadaran umat atau sahabat
untuk mengkodifikasikan Al-Qur’an. Hal ini disebabkan oleh keberadaan nabi itu
sendiri di tengah umatnya. Sehingga setiap persoalan yang dihadapi selalu bisa
ditemukan solusinya lansung kepada rasulullah. Bisa dikatakan jam’u Al-Qur’an
di masa Nabi tersebut merupakan perintah lansung dari nabi Muhammad saw, baik
penghafalan maupun penulisan. Hal ini tidak terlepaas dari firman Allah
إِنَّانَحْنُنَزَّلْنَاالذِّكْرَوَإِنَّالَهُلَحَافِظُونَ
[1]
Harun Yahya, Keajaiban Al-Quran (ebook:
www.keajaibananlquran.com)
[2]
Manna’ Khalil Al-Qattan, Mabahits fi
‘ulum al- Quran,( Riyadl : Mansyurat al-’Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M) h.
101-103
[3]
Jalaaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, Al-Itqan
fi ‘Ulum Al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 1425-1426 H) h. 57
[4]
Syekh Muhammad ‘Ali As-shabuni, At-Tibyan
fi ‘Uluum Al-Quran. (Indonesia: Dar al-kutub Al- Islamiyyah, 1424 H/2003 M)
h. 34
[5]
Manna’ Khalil Al-Qattan, Mabahits fi
‘ulum al- Quran,( Riyadl : Mansyurat al-’Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M) h.
105
[6]
Jalaaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, Al-Itqan
fi ‘Ulum Al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 1425-1426 H) h. 33
[7]Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari (e.book: haditsWeb 3.0)
[8]
Manna’ Khalil al-Qattan, Terjemahan Drs. Mudzakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2004) Cet. 8,
h. 90-91
[9]
Ibnu Hajar Al-Atsqalani, terjemahan Ghazirah Abdi Ummah, Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari, (Jakarta selatan : Pustaka
Azzam, 2002) h. 44
[10]
Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum
al-Qur`an, (Riyadl : Mansyurat al-’Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M), h. 118-119
[11]
Muhammad ‘Aliy as-Shabuniy, at-Tibyan fi
‘Ulum al-Qur`an, (Beirut : ‘Alam al-Kutub, 1405 H/1985 M), h. 49
[12]
Jalaaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, Al-Itqan
fi ‘Ulum Al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 1425-1426 H) h. 164
[13]
Prof. Dr. M. M A’zami, The History of The
Quranic Text from revelation to compilation, (ebook: UNIVERSITAS ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM), 2005)
[14]
Ahmad ibn ‘Aliy ibn Hajar al-’Asqalaniy, Fath al-Bari bi Syarh Shahih
al-Bukhariy, (ebook,Beirut : Dar al-Fikr, 1420 H/2000 M), Jilid 10, h. 13
[15]
Ibnu Hajar Al-Atsqalani, terjemahan Ghazirah Abdi Ummah, Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari, (Jakarta selatan : Pustaka
Azzam, 2002) h. 47
[16]Prof.
Dr. M. M A’zami, The History of The
Quranic Text from revelation to compilation, (ebook: UNIVERSITAS ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM), 2005)
[17] Al-quran, 4:95
[18][18]Prof.
Dr. M. M A’zami, The History of The
Quranic Text from revelation to compilation, (ebook: UNIVERSITAS ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM), 2005)
[19]Manna’
Khalil al-Qattan, Terjemahan Drs. Mudzakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2004) Cet. 8,
h. 185-186
assalamualaikum..!!
BalasHapussaya mau bertanya
di dalam makalah saudari dikatakan hikmah diturunkan alquran secara bertahap salah satunya ialah diantara ayat-ayat tersebut ada yang nasikh dan mansukh (no. 2)
jadi coba saudari jelaskan apa yang dimaksud dengan ayat alquran yang nasikh dan mansukh?